Di balik ramainya pendaki yang datang menuju Gunung Semeru, terdapat sebuah desa pegunungan dengan perjalanan sejarah yang menarik.
Desa tersebut adalah Ranupani, salah satu permukiman masyarakat Tengger yang berada di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Bagi banyak orang, Ranupani mungkin hanya dikenal sebagai titik awal pendakian menuju Ranu Kumbolo dan puncak Mahameru. Padahal, desa ini memiliki identitas yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat singgah para pendaki.
Sejarah Desa Ranupani berkaitan erat dengan perjalanan masyarakat Tengger, pembukaan lahan pertanian di dataran tinggi, perubahan pengelolaan kawasan hutan, serta pembentukan pemerintahan desa secara administratif.
Kehidupan masyarakatnya juga tumbuh berdampingan dengan danau, hutan, ladang sayur, serta lanskap Gunung Semeru yang dianggap penting secara ekologis maupun spiritual.
Dari sebuah kawasan permukiman kecil di sekitar danau, Ranupani perlahan berkembang menjadi desa wisata yang dikenal secara nasional.
Meski demikian, masyarakatnya tetap berusaha menjaga tradisi, hubungan sosial, dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Mengenal Desa Ranupani di Kaki Gunung Semeru
Desa Ranupani berada di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Kawasan ini terletak pada dataran tinggi Pegunungan Tengger dan menjadi salah satu permukiman yang berada di dalam atau dikelilingi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Ketinggiannya berada di sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut membuat udara di Ranupani terasa sejuk pada siang hari dan dapat menjadi sangat dingin pada malam hingga pagi hari. Pada musim kemarau, suhu di kawasan ini bahkan dapat turun cukup rendah.
Secara administratif, luas Desa Ranupani tercatat sekitar 35,79 kilometer persegi. Permukiman penduduk dikelilingi perbukitan, lahan pertanian, hutan pegunungan, dan beberapa danau alami.
Penulisan nama desa ini juga cukup beragam. Masyarakat dan media lebih sering menggunakan nama Ranupani atau Ranu Pani, sedangkan sejumlah dokumen resmi Pemerintah Kabupaten Lumajang menuliskannya sebagai Ranupane.
Posisinya yang berada dekat jalur pendakian membuat Ranupani sering disebut sebagai desa terakhir sebelum pendaki memasuki kawasan pegunungan Semeru.
Akar Sejarah Masyarakat Tengger di Ranupani
Sejarah Ranupani tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat Tengger yang tinggal di sekitar Pegunungan Bromo dan Semeru. Komunitas Tengger tersebar di wilayah Kabupaten Lumajang, Malang, Pasuruan, dan Probolinggo.
Dalam cerita yang berkembang secara turun-temurun, masyarakat Tengger sering dikaitkan dengan Roro Anteng dan Joko Seger. Nama “Tengger” dalam tradisi lisan disebut berasal dari gabungan bagian akhir kedua nama tersebut.
Ada pula pandangan populer yang menyebut masyarakat Tengger sebagai keturunan penduduk Majapahit yang berpindah ke kawasan pegunungan setelah melemahnya kerajaan tersebut.
Namun, sejarah masyarakat Tengger sebenarnya lebih kompleks daripada satu cerita asal-usul saja.
Kajian arkeologi menunjukkan bahwa tradisi kepercayaan masyarakat pegunungan Tengger juga memiliki unsur lokal yang kemungkinan telah berkembang sebelum kuatnya pengaruh Hindu dan Buddha dari kerajaan-kerajaan Jawa.
Karena itu, kebudayaan Tengger dapat dipahami sebagai hasil perjalanan panjang antara tradisi lokal, pengaruh Hindu-Buddha, penghormatan terhadap leluhur, dan perubahan sosial pada masa berikutnya.
Bagi masyarakat Tengger, sejarah tidak hanya tersimpan dalam dokumen tertulis. Ingatan mengenai leluhur juga diwariskan melalui upacara adat, cerita lisan, penamaan tempat, kalender tradisional, serta hubungan masyarakat dengan gunung dan sumber air.
Awal Permukiman dan Pembukaan Lahan di Ranupani
Sebelum menjadi desa administratif seperti sekarang, wilayah Ranupani merupakan kawasan hutan pegunungan, danau, serta lahan yang secara bertahap dibuka untuk permukiman dan pertanian.
Pertumbuhan permukiman terjadi ketika masyarakat dari kawasan Tengger di sekitarnya, terutama wilayah Argosari dan Senduro, mulai membuka lahan pertanian di sekitar Ranu Pani.
Dalam istilah masyarakat setempat, proses tersebut kerap disebut sebagai kegiatan buka alas.
Tanah vulkanik di lereng Semeru cukup subur untuk ditanami sayuran dataran tinggi. Hal ini mendorong keluarga-keluarga petani menetap lebih dekat dengan ladang agar kegiatan bercocok tanam menjadi lebih mudah.
Pada masa kolonial, kawasan hutan di sekitar Pegunungan Tengger dan Semeru dikelola berdasarkan kepentingan pemerintah Hindia Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaannya mengalami beberapa kali perubahan, termasuk berada di bawah pengelolaan lembaga kehutanan dan kemudian taman nasional.
Sebuah penelitian antropologi mengenai Ranupani membagi perubahan pengelolaan kawasan tersebut ke dalam beberapa periode, mulai dari masa kolonial, masa pengelolaan Perhutani, hingga masa pengelolaan taman nasional.
Perubahan tersebut turut memengaruhi hubungan penduduk dengan hutan, lahan pertanian, dan kegiatan pariwisata.
Dari Bagian Desa Argosari Menjadi Desa Mandiri
Sebelum berdiri sebagai desa sendiri, Ranupani merupakan bagian dari wilayah Desa Argosari, Kecamatan Senduro. Permukiman yang kemudian membentuk Ranupani mencakup beberapa kawasan, termasuk Besaran dan Gedokasu atau Sidodadi.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya kegiatan masyarakat, muncul kebutuhan untuk membentuk pemerintahan yang lebih dekat dengan warga. Ranupani kemudian dipersiapkan menjadi wilayah administratif tersendiri.
Sejumlah sumber menyebut Ranupani mulai menjadi desa persiapan sekitar tahun 2000. Proses pemekaran dari Desa Argosari berlangsung pada 2001, sedangkan kedudukannya sebagai desa definitif diperkuat melalui Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 9 Tahun 2005.
Perbedaan penyebutan tahun tersebut sebenarnya tidak selalu bertentangan. Tahun 2000–2001 dapat dipahami sebagai periode persiapan dan pemekaran wilayah, sedangkan 2005 menjadi bagian dari penguatan status administratifnya secara resmi.
Pembentukan pemerintahan desa membuat pelayanan administrasi, pembangunan, pengelolaan fasilitas umum, serta pengembangan potensi lokal dapat dilakukan dengan lebih terarah.
Ranu Pani dan Ranu Regulo dalam Kehidupan Desa
Nama Ranupani sangat dekat dengan keberadaan Ranu Pani, sebuah danau vulkanik yang berada di sekitar permukiman.
Dalam bahasa Jawa, kata ranu berarti danau, sehingga nama desa tersebut secara langsung menunjukkan kedekatannya dengan lanskap perairan pegunungan.
Selain Ranu Pani, terdapat pula Ranu Regulo yang dikenal karena pemandangan alam dan kawasan berkemahnya. Kedua danau tersebut menjadi bagian penting dari wajah Desa Ranupani.
Bagi masyarakat, danau tidak hanya memiliki nilai wisata. Keberadaannya berkaitan dengan keseimbangan lingkungan, aliran air, kelembapan tanah, kehidupan tumbuhan, serta identitas ruang tempat masyarakat tinggal.
Sayangnya, Ranu Pani menghadapi persoalan sedimentasi. Tanah dari lahan dan lereng di sekitarnya dapat terbawa air hujan menuju danau, terutama ketika permukaan tanah tidak tertutup vegetasi dengan baik.
Karena itu, upaya pemulihan ekosistem dilakukan melalui penanaman pohon, pengendalian erosi, pembersihan kawasan, dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Pada 2020, pemerintah daerah, TNBTS, masyarakat Ranupani, serta berbagai komunitas melakukan penanaman ribuan bibit di beberapa lokasi sekitar desa.
Tradisi Tengger yang Tetap Bertahan
Meskipun pariwisata terus berkembang, kehidupan masyarakat Ranupani masih dipengaruhi tradisi Tengger. Salah satu unsur penting dalam struktur adat adalah keberadaan dukun pandita.
Dukun pandita bukan sekadar orang yang memimpin upacara. Ia berperan dalam menjaga pengetahuan mengenai doa, kalender adat, tata cara ritual, hubungan dengan leluhur, serta berbagai aturan yang diwariskan dalam masyarakat.
Salah satu tradisi penting masyarakat Tengger adalah Upacara Karo. Perayaan ini menjadi ruang untuk memperkuat hubungan keluarga, menghormati leluhur, menjaga kerukunan, dan mengingat kembali nilai-nilai kehidupan bersama.
Ada pula seni tari Sodoran, pertunjukan musik tradisional, berbagai kegiatan selamatan, dan cerita rakyat yang berhubungan dengan tempat-tempat tertentu. Kawasan Rondo Kuning, misalnya, memiliki arti budaya dalam kehidupan masyarakat setempat.
Penelitian mengenai kebudayaan Ranupani menunjukkan bahwa dukun pandita, Upacara Karo, kesenian, serta kalender Tengger mempunyai peran penting dalam mempertahankan identitas masyarakat.
Kehidupan keagamaan di Ranupani juga memperlihatkan keberagaman. Selain warga yang memeluk Hindu, terdapat masyarakat beragama Islam dan agama lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan sosial umumnya dibangun melalui semangat kekeluargaan, kerja bersama, dan saling membantu.
Pertanian sebagai Penopang Kehidupan Masyarakat
Jauh sebelum sektor wisata berkembang, pertanian telah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Ranupani. Kondisi tanah vulkanik, suhu sejuk, dan ketinggian wilayah mendukung budidaya berbagai jenis sayuran.
Kentang dan kubis termasuk komoditas yang banyak ditanam. Selain itu, petani juga membudidayakan bawang daun, wortel, dan tanaman dataran tinggi lainnya, tergantung musim serta kondisi pasar.
Ladang biasanya berada tidak terlalu jauh dari rumah penduduk. Pada pagi hari, pemandangan warga berjalan atau mengendarai kendaraan menuju lahan pertanian merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari desa.
Namun, pertanian di lereng pegunungan memiliki tantangan besar. Pengolahan tanah secara intensif pada lahan miring dapat meningkatkan risiko erosi. Ketika hujan turun, lapisan tanah yang terbuka lebih mudah terbawa menuju bagian lembah dan danau.
Penelitian mengenai masyarakat Ranupani menyebut lahan pertaniannya sebagai pertanian lahan kering yang cukup rentan terhadap degradasi.
Karena itu, penerapan terasering, tanaman penutup tanah, pengaturan saluran air, serta pengurangan pengolahan tanah berlebihan menjadi penting bagi keberlanjutan pertanian.
Ranupani Menjadi Gerbang Pendakian Gunung Semeru
Perkembangan Ranupani sebagai tujuan wisata tidak terlepas dari popularitas Gunung Semeru. Desa ini menjadi salah satu pintu utama untuk memasuki jalur pendakian menuju Ranu Kumbolo dan kawasan pegunungan di atasnya.
Kedatangan pendaki membawa perubahan ekonomi. Sebagian masyarakat mulai menyediakan homestay, warung makan, jasa transportasi, penyewaan perlengkapan, pemandu lokal, dan berbagai kebutuhan wisatawan.
Pertanian tetap menjadi bagian penting kehidupan desa, tetapi pariwisata menciptakan sumber pendapatan tambahan. Anak-anak muda juga memperoleh peluang bekerja sebagai pemandu, pengelola penginapan, pedagang, atau pelaku ekonomi kreatif.
Di sisi lain, pertumbuhan kunjungan membawa tantangan berupa sampah, tekanan terhadap lingkungan, perubahan penggunaan ruang, dan kemungkinan bergesernya kebudayaan lokal menjadi sekadar tontonan.
Penelitian tentang pariwisata di Ranupani menunjukkan adanya perubahan cara sebagian masyarakat memandang hutan.
Hutan yang sebelumnya lebih banyak dipahami sebagai ruang hidup dan sumber kebutuhan sehari-hari mulai dilihat pula sebagai aset wisata yang dapat menghasilkan pendapatan.
Menjaga Identitas Ranupani di Tengah Perubahan
Ranupani kini berada di tengah pertemuan antara adat, pertanian, konservasi, dan pariwisata. Keempat unsur tersebut dapat saling mendukung, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan apabila tidak dikelola secara seimbang.
Pengembangan desa wisata sebaiknya tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengunjung. Masyarakat lokal perlu tetap menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton dari perubahan yang terjadi di wilayahnya sendiri.
Wisata berbasis budaya dapat dikembangkan melalui pengenalan sejarah desa, kegiatan pertanian, kuliner lokal, kesenian, dan pengetahuan masyarakat mengenai lingkungan. Namun, ritual yang bersifat sakral tetap perlu dihormati dan tidak dipaksakan menjadi pertunjukan.
Pelestarian danau, hutan, serta tanah pertanian juga harus menjadi bagian utama pembangunan. Tanpa lingkungan yang sehat, daya tarik wisata dan sumber penghidupan masyarakat akan sama-sama terancam.
Ranupani telah membuktikan bahwa sebuah desa kecil di pegunungan dapat memiliki peran besar. Desa ini bukan hanya gerbang menuju Semeru, tetapi juga ruang hidup masyarakat Tengger yang terus beradaptasi tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budayanya.
Sejarah Desa Ranupani memperlihatkan perjalanan panjang sebuah permukiman Tengger di kaki Gunung Semeru.
Berawal dari kawasan hutan dan ladang di sekitar danau, Ranupani berkembang menjadi bagian Desa Argosari, kemudian menjalani proses pemekaran hingga berdiri sebagai desa mandiri.
Pertanian, tradisi Tengger, keberadaan Ranu Pani, dan jalur pendakian Semeru membentuk identitas desa ini. Perkembangan pariwisata memang membuka peluang ekonomi, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi lingkungan dan kebudayaan lokal.
Saat mengunjungi Ranupani, jangan hanya melihatnya sebagai tempat transit sebelum mendaki. Luangkan waktu untuk mengenal masyarakatnya, menghormati tradisi, menjaga kebersihan, serta menggunakan layanan lokal secara bertanggung jawab.
Dengan cara tersebut, perjalanan ke Ranupani dapat ikut mendukung kelestarian alam dan kehidupan masyarakat Tengger.
FAQ
1. Di mana lokasi Desa Ranupani?
Desa Ranupani berada di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Desa ini terletak di kawasan Pegunungan Tengger, dekat jalur pendakian Gunung Semeru.
2. Apakah Ranupani termasuk desa masyarakat Tengger?
Ya. Sebagian besar identitas budaya masyarakat Ranupani berkaitan dengan adat dan tradisi Tengger yang telah diwariskan secara turun-temurun.
3. Kapan Desa Ranupani berdiri?
Ranupani sebelumnya merupakan bagian dari Desa Argosari. Proses persiapan dan pemekaran berlangsung sekitar 2000–2001, sedangkan status administratif definitifnya diperkuat melalui peraturan daerah pada 2005.
4. Apa mata pencaharian utama masyarakat Ranupani?
Pertanian sayuran merupakan mata pencaharian utama. Seiring berkembangnya pariwisata, sebagian warga juga bekerja dalam bidang penginapan, transportasi, perdagangan, dan jasa pendakian.
5. Mengapa Ranupani disebut gerbang Gunung Semeru?
Ranupani menjadi lokasi awal perjalanan bagi banyak pendaki yang menuju Ranu Kumbolo dan kawasan pendakian Gunung Semeru. Di desa ini terdapat fasilitas dan layanan yang berkaitan dengan aktivitas wisata pegunungan.